BANDUNG — Di sebuah sudut Kota Bandung yang jarang dijamah peta wisata, tepatnya di Jalan Cibiru Indah, denyut nadi sastra justru berdetak kencang. Di balik gerbang sederhana yang didampingi rak buku, duduk seorang sosok yang oleh komunitasnya akrab disapa Kyai Matdon. Bukan pemuka agama, melainkan “sesepuh” yang dianggap merawat “kitab-kitab” imajinasi. Inilah markas Komunitas Kyai Matdon (KKM), ruang yang lebih mirip sanggar lintas generasi, tempat penyair muda yang gelisah berdiskusi dengan pegiat teater, dan cerpenis bertukar pikiran dengan esais.
“Ini bukan sekadar tempat nongkrong. Ini ruang di mana kita kembali ke kesunyian untuk mendengar kata-kata,” ujar Matdon, yang nama aslinya adalah A. M. Z. Nasrullah, suatu sore. Filosofi “kesunyian” itu yang menjadi roh KKM sejak berdiri tahun 2007. Di tengah hingar-bingar media sosial dan konten instan, KKM dengan sengaja membangun oase untuk merenung, mengkritik, dan merajut kata dengan lebih mendalam.
Namun, geliat yang terjadi di sanggar kecil ini bukanlah fenomena yang terisolasi. Ia adalah satu dari sekian banyak simpul yang mengonfirmasi kebangkitan kehidupan sastra akar rumput di Indonesia. Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), setidaknya ada ribuan komunitas sastra yang tersebar dari Aceh hingga Papua, dengan Jawa Barat, termasuk Bandung, sebagai salah satu episentrumnya. Komunitas-komunitas ini menjadi inkubator penulis baru di luar kanal penerbitan arus utama.
Bandung sendiri memiliki sejarah panjang sebagai kota literasi. Dari tradisi “Persada Studi Klub” di era 50-an yang melahirkan penyair seperti Ajip Rosidi, hingga maraknya komunitas seperti Rumah Buku Bandung dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Bandung di era modern. KKM hadir melanjutkan sekaligus memodifikasi tradisi itu dengan pendekatan yang lebih cair dan personal, tanpa struktur formal dan bergantung pada semangat kerelawanan.
Peran komunitas seperti KKM dalam ekosistem sastra nasional semakin krusial. Laporan Tahunan IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menyebutkan, meski jumlah judul buku fiksi dan sastra yang diterbitkan setiap tahunnya fluktuatif, pertumbuhan penulis pemula justru signifikan, banyak diantaranya yang pertama kali menulis dan diterbitkan melalui antologi bersama yang diinisiasi komunitas. KKM sendiri telah melahirkan puluhan antologi, menjadi batu loncatan bagi anggotanya sebelum melangkah ke karya solo.
“KKM itu seperti laboratorium. Kami bebas bereksperimen dengan bentuk, dari puisi konvensional sampai puisi visual, dari cerpen realis sampai yang absurd,” cerita Risa, salah satu anggota muda yang baru saja menerbitkan buku pertamanya. Semangat eksperimen ini sejalan dengan tren sastra kontemporer Indonesia yang, seperti ditulis kritikus sastra Asep Sambodja dalam artikelnya di Jurnal Sajak (2022), ditandai dengan keberanian bermain bentuk dan merekam kompleksitas urban dengan bahasa yang segar.
Tantangannya nyata. Minimnya dukungan dana dan fasilitas seringkali menjadi kendala. Namun, KKM dan komunitas sejenis menjawabnya dengan jaringan kolaborasi. Mereka kerap menggelar acara bersama, festival kecil, atau residensi penulis dengan komunitas dari kota lain, memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan. Media sosial seperti Instagram justru menjadi alat ampuh untuk menyebarkan event-event sastra mereka, menarik minat generasi muda.
Di tengah narasi bahwa minat baca dan apresiasi sastra Indonesia sedang sakit, geliat di tempat-tempat seperti sanggar Kyai Matdon justru membawa angin segar. Mereka membuktikan bahwa sastra tidak mati, ia hanya berpindah ke ruang-ruang yang lebih intim, bersemayam dalam diskusi hangat di antara secangkir kopi, dan tumbuh subur dalam kesunyian yang produktif. Seperti kata Matdon menutup percakapan, “Selama masih ada yang ingin mendengar dan bercerita, di situlah sastra hidup.” Dan di Bandung, nyawa itu kian menggeliat.
Penulis : Jajat Sudrajat
Editor : Mang Asuy



















