Shahed-136, drone “bunuh diri” buatan Iran, kembali menjadi pusat perhatian global setelah serangan balasan besar-besaran Iran ke pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah. Namun, di balik keganasannya, terungkap angka mengejutkan tentang nilai sebenarnya dari senjata asimetris ini.Berdasarkan dokumen yang bocor dari grup peretas Prana Network, terungkap detail negosiasi harga dan transfer teknologi drone ini dari Iran ke Rusia. Jika awalnya Iran membanderol US$375.000 per unit, Rusia berhasil menekan harga menjadi US$193.000 untuk pemesanan 6.000 unit, termasuk biaya lisensi produksi di pabrik Alabuga . Namun, yang paling mencolok adalah biaya produksi murninya yang hanya berkisar US$48.000 hingga US$50.000 per unit, menunjukkan margin keuntungan besar bagi Iran yang bahkan dibayar sebagian dengan emas batangan.

Shahed-136 Mengamuk di Teluk

Momen artikel ini dimuat, Shahed-136 sedang menjadi sorotan utama pasca serangan balasan Iran terhadap serangan udara gabungan AS-Israel. Pada akhir Februari 2026, drone murah ini digunakan untuk menyerang sejumlah basis AS di kawasan Teluk, menegaskan kembali efektivitasnya sebagai senjata asimetris yang sulit dihadapi .

Pertahanan Bahrain Kewalahan

Pasukan Pertahanan Bahrain mengonfirmasi telah mencegat puluhan proyektil Iran, termasuk 9 drone jenis Shahed-136, pada 1 Maret 2026 . Namun, laporan dan video yang beredar menunjukkan serangan ini berhasil mencapai sasaran. Media Iran dengan lantang mengklaim bahwa serangan drone Shahed-136 “langsung menghantam” markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, bahkan merusak sebuah radar penting. Sebuah video yang divalidasi oleh The New York Times memperlihatkan momen drone berbentuk segitiga itu menabrak sebuah gedung di Manama, diikuti ledakan besar .

Dari Teluk hingga Jumeirah

Tak hanya Bahrain, gema ledakan Shahed-136 juga terdengar di Uni Emirat Arab. Sebuah video memperlihatkan drone tersebut menabrak hotel mewah Fairmont Palm di kawasan Jumeirah, Dubai . Sementara itu, di Abu Dhabi, pecahan-pecahan drone ditemukan jatuh di sejumlah area termasuk Pulau Saadiyat, mengonfirmasi upaya penetrasi yang mengguncang kawasan yang biasanya aman tersebut .

Propaganda Bawah Tanah Iran

Di tengah gempuran ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis video dari sebuah terowongan bawah tanah yang tidak terlihat ujungnya. Rakaman yang disiarkan media pemerintah itu memperlihatkan barisan panjang drone Shahed-136 dalam keadaan siaga, sebuah pesan propaganda bahwa Iran masih memiliki ribuan “saksi bisu” yang siap diterbangkan .

Versi Baru yang Lebih Mematikan

Shahed-136 tidak berhenti berevolusi. Beberapa pekan sebelum serangan besar ke Teluk, terungkap adanya peningkatan kemampuan signifikan pada drone ini :·

Versi Jet (Shahed-136 Jet): Iran memperkenalkan varian baru dengan mesin jet yang lebih cepat. Untuk meluncurkannya, kendaraan peluncur harus melaju hingga 190 km/jam. Versi ini juga dilengkapi sensor optik di hidungnya, memungkinkan panduan dan kuncian target secara langsung oleh operator pada fase akhir serangan, mengubahnya dari sekadar “drone buta” menjadi senjata presisi .·

Pemandu Video Jarak Jauh: Di medan perang Ukraina, Rusia mulai menggunakan Shahed-136 (versi Geran-2) yang dilengkapi dengan modem radio dan sistem machine vision berbasis NVIDIA Jetson Orin. Ini memungkinkan drone dikendalikan secara manual dengan umpan balik video dari jarak hingga 150 kilometer, membuatnya jauh lebih sulit diakali oleh pertahanan udara Ukraina .

AS Memburu Penciptanya dan akan “Shahed” Rekayasa Balik

Dalam perkembangan yang penuh ironi, Amerika Serikat dilaporkan telah menggunakan senjata yang terinspirasi dari musuhnya. Central Command (CENTCOM) AS mengonfirmasi penggunaan drone LUCAS (Low-cost Unmanned Combat Attack System) dalam operasi “Epic Fury” melawan Iran. Drone seharga US$35.000 ini adalah hasil rekayasa balik (reverse-engineered) dari Shahed-136 yang dilakukan oleh perusahaan Arizona, SpektreWorks. Untuk pertama kalinya, teknologi drone murah buatan Iran digunakan untuk menghantam infrastruktur milik IRGC sendiri .Dengan biaya produksi yang hanya puluhan ribu dolar, Shahed-136 terus memaksa lawan-lawanannya mengeluarkan rudal pencegat seharga jutaan dolar—sebuah strategi pengurasan logistik yang terbukti ampuh. Dari terowongan bawah tanah Iran hingga langit Ukraina dan gedung pencakar langit di Teluk, drone murah ini telah menulis ulang taktik peperangan modern, membuktikan bahwa harga sebuah senjata tidak selalu sebanding dengan dampak global yang mampu ditimbulkannya.