Tasikmalaya – Di sebuah ruang kelas yang riuh, puluhan pelajar justru tidak asyik dengan gawai atau tren viral terbaru. Alih-alih, mereka memusatkan perhatian pada gerakan tari, melantunkan lagu-lagu berbahasa Sunda, dan memainkan kecapi. Ini bukan sekadar pelajaran biasa, melainkan sebuah gerakan sadar, melawan arus budaya asing yang kian deras melalui seni dan tradisi lokal.
Gerakan ini, seperti dilaporkan Radar Tasikmalaya (13/01/2026), muncul dari keprihatinan akan pudarnya nilai-nilai budaya Sunda di kalangan generasi muda. Di tangan mereka, jaipongan, kakawihan, dan drama berbahasa Sunda bukan sekadar pertunjukan, tetapi menjadi senjata pelestarian. Para pelajar mengakui bahwa tantangan terbesar adalah daya tarik budaya pop global yang lebih “keren” di mata sebaya.
“Kami ingin buktikan bahwa budaya kami sendiri justru lebih kaya dan bermakna,” kata Siti, salah satu pelajar SMA yang terlibat, mencerminkan semangat yang beresonansi dengan upaya pelestarian serupa di berbagai daerah.
Krisis Regenerasi Budaya Tradisional
Aksi di Tasikmalaya ini bukan fenomena tunggal. Ia merupakan secercah harapan di tengah data yang mengkhawatirkan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat bahwa dari 1.728 warisan budaya takbenda Indonesia yang telah ditetapkan, banyak yang menghadapi ancaman serius akibat minimnya regenerasi dan penetrasi budaya global (Situs Warisan Budaya Kemendikbudristek, 2023).
Laporan UNESCO dalam “Globalization and Intangible Cultural Heritage” juga mengingatkan bahwa globalisasi, jika tidak diimbangi dengan safeguarding yang aktif, dapat menggerus keberagaman ekspresi budaya lokal. Dalam konteks ini, aksi proaktif pelajar Tasikmalaya sejalan dengan seruan global untuk melibatkan kaum muda sebagai aktor pelestarian utama.
Dampak Digital Ancaman atau Peluang
Para ahli melihat fenomena ini secara kompleks. Professor Asep Yudha Wirajaya, pakar sosiologi budaya dari Universitas Padjadjaran, dalam sebuah webinar (2024) menyatakan, “Gempuran konten digital dan budaya pop asing yang massif memang menggeser minat anak muda. Namun, media digital seharusnya bisa menjadi alat ampuh untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan bahkan menginovasi tradisi.” Hal ini diamini oleh para pelajar Tasikmalaya yang mulai mengunggah aksi mereka ke platform media sosial.
Di sisi lain, Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2023 menunjukkan bahwa 99,11% penduduk Indonesia usia 16-18 tahun adalah pengguna internet aktif. Angka ini membuktikan betapa kuatnya paparan budaya global. Oleh karena itu, upaya ‘melawan arus’ tidak lagi cukup hanya di sanggar atau sekolah, tetapi harus merambah ruang digital agar bisa bersaing.
Aksi para pelajar ini mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya. “Ini adalah investasi budaya yang tak ternilai. Kami mendukung penuh dan berencana menjadikannya program berkelanjutan, mungkin dengan mengadakan festival seni pelajar tahunan,” ujar Kadis Pendidikan Kota Tasikmalaya, H. Budiman Santoso.
Esensi dari gerakan ini adalah pertanyaan reflektif, akankah warisan budaya hanya menjadi memoari di museum, atau bisa hidup, relevan, dan dinikmati oleh generasi digital? Jawaban sementara datang dari para pelajar Tasikmalaya itu sendiri. Dengan semangat dan kreativitas, mereka tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga sedang menulis ulang narasi, bahwa menjadi modern tak harus kehilangan jati diri, dan bahwa Budaya Sunda tetap ‘ngehits’ di zamannya sendiri.
Sumber :
Radar Tasikmalaya. “Ketika Pelajar di Kota Tasikmalaya Melawan Arus Budaya Asing Lewat Aksi Seni Sunda.” 13 Januari 2026



















