WASHINGTON — Untuk pertama kalinya dalam sembilan dekade, Amerika Serikat mengalami fenomena yang mengguncang fondasi “American Dream”—negara ini kehilangan lebih banyak penduduk daripada yang datang. Tahun 2025 mencatat migrasi bersih negatif, sebuah tren yang terakhir terlihat pada 1935 di puncak Depresi Besar ketika lebih dari 100.000 warga AS berbondong-bondong melamar kerja ke pabrik-pabrik Uni Soviet demi kehidupan yang lebih adil .Kini, sejarah berulang dengan cara yang lebih kompleks. Analisis The Wall Street Journal bersama Brookings Institution memperkirakan defisit populasi AS mencapai 150.000 orang pada 2025, dengan migrasi bersih berkisar antara -10.000 hingga -295.000. Proyeksi untuk 2026? Tren negatif ini diprediksi berlanjut.

Eksodus yang Terfragmentasi

Diperkirakan 4 hingga 9 juta warga Amerika kini menetap di luar negeri—angka yang sulit dipastikan karena pemerintah AS berhenti mencatat statistik emigrasi komprehensif sejak era Presiden Dwight D. Eisenhower di tahun 1950-an . Namun data parsial dari izin tinggal, pembelian properti asing, dan pendaftaran mahasiswa di lebih dari 50 negara mengungkapkan gambaran yang jelas: sebuah “boom expat” yang tak terduga.Data terbaru menunjukkan lonjakan dramatis: 1.285 warga AS menyerahkan kewarganegaraannya pada kuartal pertama 2025, naik 102% dibandingkan kuartal terakhir 2024. Jika pola ini berlanjut, 2025 akan mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah, melampaui puncak pandemi COVID-19 di 2020 .Lebih mencengangkan, permintaan untuk melepaskan kewarganegaraan AS melonjak 48% pada 2024. Bukan lagi sekadar fantasimelainkan keputusan pragmatis dari mereka yang kehilangan harapan .

Portugal dan Spanyol menjadi destinasi favorit warga AS yang mencari kualitas hidup lebih baik. (Foto: Forbes)

Mengapa Mereka Pergi?

“Berbeda dengan gelombang emigrasi sebelumnya yang sering didorong oleh satu sebab tunggal, tren saat ini bersifat multifaset,” demikian laporan CS Global Partners. Dari perubahan demografi halus hingga titik balik sosiopolitik, konvergensi berbagai kekuatan di pertengahan 2020-an telah menciptakan ledakan expat yang luar biasa

Biaya Hidup yang Tinggi

Inflasi AS mencapai puncaknya di 9,1% pada 2022—kenaikan tertinggi dalam 40 tahun. Sementara upah stagnan, biaya perumahan, kesehatan, dan pendidikan terus meroket. Lebih dari 100.000 mahasiswa AS kini belajar di luar negeri, mencari gelar yang lebih terjangkau dan pengalaman budaya yang berbeda.

Polarisasi politik yang mendalam di AS, yang mempertentangkan Demokrat melawan Republik, telah mendorong sebagian warga untuk “memilih dengan kaki mereka.” Survei terbaru menunjukkan 76% melihat demokrasi terancam, sementara 73% percaya kekerasan politik sudah sistemik .Chris Ford, karyawan perusahaan investasi real estat asal Texas yang kini tinggal di Berlin, mengungkapkan alasan yang lebih personal dan menghantui: “Anda tidak menghadapi prospek anak lima tahun Anda masuk taman kanak-kanak dan melakukan latihan penembakan aktif.”

Kekerasan Senjata Api dan Ketidakamanan

AS menonjol dalam hal kekerasan senjata api dan penembakan massal. Bagi banyak keluarga, keamanan menjadi prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. “Upah lebih tinggi di AS, tapi kualitas hidup lebih tinggi di Eropa,” ujar Ford.

Destinasi Impian ,Dari Lisbon hingga Bangkok

Eropa muncul sebagai pilihan utama, dengan Yunani menjadi favorit khususnya bagi mereka yang mencari program Golden Visa . Namun Portugal menduduki puncak daftar—sebuah survei terhadap 116.363 warga AS menunjukkan Portugal sebagai negara nomor satu yang paling diinginkan, diikuti Spanyol, Inggris, Kanada, dan Italia .Data Kantor Statistik Pusat Irlandia menunjukkan lonjakan 96% warga AS yang pindah ke Irlandia dalam 12 bulan hingga April 2025—dari 4.900 menjadi 9.600 orang. Jumlah ini bahkan melebihi warga Irlandia yang pindah ke AS .Di seluruh 27 negara anggota Uni Eropa, jumlah warga AS yang tiba untuk tinggal dan bekerja mencapai rekor tertinggi.

Universitas St Andrews di Skotlandia—alma mater Pangeran William—kini dijuluki “mini-Nantucket” karena begitu penuhnya dengan mahasiswa Amerika .Tidak hanya Eropa. Jutaan warga AS tersebar di Meksiko (1,6 juta), Kanada (250.000), dan destinasi eksotis seperti Bali, Kolombia, serta Thailand. Bintang R&B Kelis bahkan dengan gembira mendokumentasikan kehidupan barunya di Kenya melalui Instagram .

The Donald Dash?

Meski banyak yang menyebut fenomena ini sebagai “The Donald Dash”—kepergian massal pasca pemilihan ulang Donald Trump—para analis menolak menyederhanakannya. Memang, lalu lintas situs web Expatsi melonjak dari 8.000 menjadi hampir 51.000 pengunjung pada November 2024 pasca pemilu, dan pendapatan perusahaan relokasi melonjak 19.632% year-over-year.

Namun, seperti yang ditulis The Wall Street Journal , jawabannya jauh lebih kompleks. “Munculnya kerja jarak jauh, biaya hidup yang meningkat, dan hasrat akan gaya hidup asing” semua berperan. “Mimpi Amerika yang baru, bagi sebagian warganya, adalah untuk tidak lagi tinggal di sana,” kesimpulan yang menggugat konsep “American exceptionalism” .

Dampak Global dan Reaksi Lokal

Ledakan ini tidak selalu disambut hangat. Dari Dublin hingga Lisbon, dari Bali hingga Bangkok, warga lokal mulai menunjukkan kekesalan atas “pengambil alihan” komunitas mereka oleh expat AS yang berbondong-bondong. Krisis perumahan di beberapa kota Eropa semakin diperburuk oleh permintaan properti dari warga Amerika yang kaya. Bagi AS sendiri, fenomena ini mengancam. Selain kehilangan warga negara, negara juga kehilangan bakat dan kontribusi ekonomi. Sebaliknya, negara tujuan mendapatkan investasi dan konsumen baru, meski dengan risiko gentrifikasi.

Masa Depan dan Eksodus yang Berlanjut?

Proyeksi menunjukkan tren ini akan berlanjut, bahkan meningkat pada 2026. Dua pertiga responden survei Expatsi menyatakan ingin meninggalkan AS pada 2026, dengan 12% berencana pindah dalam enam bulan ke depan .Dari mahasiswa yang mencari pendidikan terjangkau, profesional remote worker yang mencari work-life balance, hingga pensiunan yang mencari perawatan murah—gelombang ini beragam.

Mereka adalah “jutaan diaspora yang belajar, bekerja jarak jauh, dan pensiun di luar negeri” .Di era di mana kehidupan di negeri Paman Sam semakin tidak terjangkau dan tidak aman, banyak warganya menemukan bahwa impian terbaik adalah meninggalkannya. Seperti yang terjadi pada 1935, ketika harapan redup, kaki mulai bergerak mencari tanah yang lebih hijau—atau setidaknya, lebih aman.