Diriwayatkan dalam lembaran sejarah yang suci, sebuah adab agung terukir bukan di atas prasasti marmer, melainkan di atas kesabaran yang tulus dan belas kasih yang tak bertepi. Ia adalah Muhammad, sang Nabi, yang bahkan air ludah kebencian pun tak sanggup mengeraskan hatinya.

Di jalanan sempit Makkah yang terik, di lorong yang menuju Baitullah, sebuah penghinaan direncanakan dengan penuh kepongahan. Orang-orang Quraisy yang enggan menerima cahaya kebenaran menyewa seorang Yahudi untuk menjadi alat penyakitan. Mereka tahu persis jalan yang selalu dilalui lelaki itu, mereka hitam-hitung waktunya. Mereka ingin menyaksikan sang pembawa risalah terguncang, marah, atau setidaknya, tersingkir dari jalan itu.

Dan tibalah saatnya. Sang Yahudi berdiri menunggu. Tatkala sosok bertubuh sedang dengan wajah penuh keteduhan itu lewat, ia pun memanggil. Seperti biasa, Muhammad menoleh. Bagi beliau, setiap panggilan adalah hak yang harus dijawab. Di detik itulah, dengan gerak cepat, si Yahudi meludah. Ludah kekesatan itu mendarat tepat di wajah suci Nabi.

Diam. Hening. Mata para saksi yang mungkin tersembunyi menantikan reaksi. Tapi yang terjadi justru sepi dari kemarahan. Tak ada hardikan, tak ada caci. Nabi hanya mengusap wajahnya, lalu berlalu. Seolah tak ada yang terjadi.

Keesokan harinya, di jam yang sama, Nabi kembali melangkah di lorong yang identik dengan penghinaan itu. Tak ada langkah menghindar, tak ada dendam yang mengubah rute. Dan sejarah pun berulang: panggilan, lalu ludah. Demikianlah hari-hari berlalu, seolah menjadi ritual aneh: seorang lelaki datang untuk diludahi, dan seorang lain berdiri untuk meludah.

Sampai suatu pagi, sunyi yang lain menyapa. Lorong itu kosong. Tak ada yang menunggu. Nabi Muhammad SAW justru merasa kehilangan. Dalam hatinya, bergumam sebuah pertanyaan yang hanya lahir dari jiwa yang paling mulia, “Ke mana gerangan orang yang selalu meludahiku?”

Ternyata, si Yahudi itu jatuh sakit. Tiada lagi tenaga untuk berdiri di lorong, tiada lagi ludah untuk dilontarkan.

Mendengar kabar itu, Nabi tak ragu. Beliau pulang, mengambil bekal makanan dari rumahnya sendiri. Tak cukup sampai di situ, dengan langkah pasti, beliau menyambangi pasar, memilih buah-buahan terbaik yang bisa dibeli dengan harta yang serba pas-pasan. Dengan bawaan itu, beliau berjalan menuju rumah si sakit—rumah orang yang telah berulang kali menghinanya.

Ketukan di pintu. Dari dalam, suara lemah menyahut, “Siapa?”

“Saya, Muhammad.”

“Muhammad siapa?” tanya si Yahudi, mungkin tak percaya.

“Muhammad Rasulullah,” jawab sang tamu dengan jernih.

Pintu terbuka. Terpampanglah wajah yang paling tak diduganya. Wajah yang ia ludahi berhari-hari. Wajah yang kini berseri dengan niat tulus menjenguk.

“Untuk apa engkau datang?” tanya si Yahudi, bercampur rasa takut, heran, dan malu.

“Aku datang untuk menjengukmu, wahai saudaraku, karena aku mendengar engkau jatuh sakit,” jawab Nabi, suaranya tetap lembut bagai embun pagi.

Kata-kata itu bagai panah yang menembus lapisan keras kebencian. Si Yahudi pun tercenung, lalu pecahlah pengakuannya, “Wahai Muhammad… sejak aku sakit, belum seorang pun datang menjengukku. Bahkan Abu Jahal yang menyewaku untuk menyakitimu, yang kukira akan peduli, tak jua datang meski aku utus orang memanggilnya. Tapi engkau… engkau yang kusakiti, yang kuludahi wajahmu, justru engkau yang pertama datang….”

Air mata mungkin telah menggenang. Dinding permusuhan runtuh seketika oleh gelombang kebaikan yang tak terduga. Keagungan akhlak itu, yang tak terpengaruh oleh balasan duniawi, telah meluluhkan batu hati yang paling keras.

Dengan getar haru, di depan sosok yang ia sakiti, lelaki Yahudi itu membuka hatinya. Ia memeluk Nabi dan mengikrarkan kalimat yang mengubah hidupnya selamanya, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Dalam ruang sunyi rumah orang sakit itu, bukan hanya sebuah penyakit yang disembuhkan. Tapi sebuah kebencian yang disembuhkan, sebuah kekafiran yang diislamkan. Semua bermula dari sebuah ludahan yang dibalas dengan kunjungan, sebuah penghinaan yang ditukar dengan belas kasih. Inilah seni memenangkan hati tanpa pertempuran, mengubah musuh menjadi saudara, bukan dengan pedang, melainkan dengan kemuliaan adab yang tiada tanding.