Dulu, senja di pinggiran kota atau di tepian sawah sering dihiasi oleh kerlip cahaya kuning yang menari-nari. Kehadiran mereka bagai percikan bintang yang jatuh ke bumi, menjadi sumber kekaguman dan inspirasi bagi anak-anak. Namun, kini, pemandangan ajaib itu semakin sulit ditemui. Di mana para “peri kecil” penerang malam itu pergi?
Fenomena memudarnya kunang-kunang dari pandangan kita bukanlah sekadar kesan semata, melainkan realita yang mengkhawatirkan para ilmuwan. Habitat yang Terfragmentasi dan Hilang menjadi ancaman utama. Kunang-kunang menjadikan tanah lembab, semak-belukar, tepian sungai, dan area pertanian tradisional sebagai rumah. Namun, ekspansi kota, industrialisasi, dan alih fungsi lahan basah menjadi permukiman atau lahan kering secara masif telah menggerus rumah mereka. Setiap petak tanah yang diaspal atau dibangun, adalah petak kegelapan yang diciptakan bagi populasi kunang-kunang.

Ancaman kedua, mungkin yang paling paradoks di era modern, adalah polusi cahaya. Kunang-kunang berkomunikasi, mencari pasangan, dan bereproduksi melalui sinyal cahaya bioluminesensinya yang rumit. Cahaya lampu jalan, lampu taman, dan sorot dari bangunan mengacaukan “percakapan cahaya” yang vital ini. Dr. Avalon Owens, seorang ahli entomologi dari Tufts University, dalam National Geographic menyatakan, “Kunang-kunang jantan mungkin tidak bisa melihat sinyal betina yang lebih redup, dan betina mungkin tidak bisa melihat keunikan pola kedip jantan,” yang akhirnya mengganggu ritual perkawinan mereka.
Faktor ketiga adalah penggunaan pestisida secara berlebihan. Pestisida yang ditujukan untuk hama, seperti neonikotinoid, juga membunuh serangga non-target, termasuk larva kunang-kunang yang memakan siput, cacing, atau hewan kecil lain di tanah. Racun ini menganggu siklus hidup mereka dari dasar. Selain itu, perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan ekstrem atau pola hujan tidak menentu juga mengancam, karena kunang-kunang membutuhkan kelembaban tertentu untuk berkembang biak.

Lalu, adakah harapan? Beberapa komunitas di dunia mulai bergerak. Di Jepang, salah satu spesies kunang-kunang bahkan menjadi simbol gerakan konservasi. The Guardian melaporkan upaya di kota Toyohashi, dimana warga menciptakan kembali habitat basah dan mengurangi cahaya buatan untuk mendatangkan kembali kunang-kunang, menjadikannya atraksi wisata alam yang berkelanjutan. Di Amerika, gerakan “Lights Out” pada malam hari selama musim kawin juga mulai diadopsi untuk membantu satwa nokturnal, termasuk kunang-kunang.
Di Indonesia, langkah serupa bisa dimulai dari hal sederhana, membiarkan sebagian pekarangan tumbuh alami, mengurangi lampu taman yang tidak perlu, dan menghindari penggunaan pestisida kimia. Melindungi kunang-kunang pada dasarnya adalah melindungi kesehatan ekosistem kita. Kepergian mereka yang senyap adalah alarm dari alam. Seperti yang diingatkan oleh para peneliti, ketika kunang-kunang padam, itu adalah pertanda bahwa kegelapan mulai menyelimuti keseimbangan lingkungan yang lebih luas. Mari jaga kerlip mereka, agar pesona dan keajaiban malam tetap hidup untuk generasi mendatang.



















